• Jelajahi

    Copyright © Global Faktual
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Etika Moderasi Beragama: Jalan Tengah Merawat Harmoni Bangsa di Era Disrupsi

    Kamis, 25 Desember 2025, Desember 25, 2025 WIB Last Updated 2025-12-25T15:01:42Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh: Masdjo Arifin (Founder Budayantara)


    Globalfaktual-com - Jakarta,- Indonesia sejak awal dilahirkan sebagai bangsa yang majemuk. Keragaman agama, keyakinan, budaya, dan etnis merupakan kenyataan sosiologis yang tidak dapat diingkari. Namun, kemajemukan itu hanya akan menjadi kekuatan jika dikelola dengan etika yang benar. Di sinilah moderasi beragama menemukan relevansinya, bukan sekadar sebagai jargon kebijakan, melainkan sebagai sikap hidup yang menjiwai keseharian masyarakat.

    Etika moderasi beragama adalah cara pandang dan sikap toleran yang menjaga kerukunan dengan mengedepankan nilai-nilai universal: saling menghormati, anti kekerasan, dialog, serta komitmen kebangsaan. Prinsip ini sejalan dengan konsep jalan tengah (tawassuth) yang diajarkan dalam tradisi keagamaan yakni menghindari sikap ekstrem, baik yang terlalu keras maupun yang terlalu longgar, sehingga agama tetap hadir sebagai sumber kedamaian, bukan pemicu konflik.

    Moderasi Beragama: Substansi, Bukan Sekadar Simbol

    Moderasi beragama sering kali dipersepsikan sebagai program pemerintah yang bersifat seremonial atau politis. Padahal, substansi moderasi beragama jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah upaya kolektif untuk mengembalikan agama pada nilai dasarnya: memuliakan manusia, menjaga martabat kehidupan, dan merawat persatuan.

    Moderasi beragama diwujudkan bukan hanya melalui pidato atau deklarasi, tetapi melalui praktik nyata: menghargai perbedaan keyakinan, membuka ruang dialog antarumat beragama, serta mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya secara damai. Ketika nilai-nilai ini hidup dalam keseharian, maka moderasi beragama tidak lagi menjadi konsep elitis, melainkan etika sosial yang membumi.

     Peran Strategis Moderasi Beragama

    Pertama, menjaga harmoni sosial . Moderasi beragama menciptakan ruang dialog yang sehat dan setara. Perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kenyataan yang harus dikelola dengan kebijaksanaan. Dengan dialog dan sikap saling memahami, potensi konflik berbasis agama dapat ditekan sejak dini.

    Kedua, memperkuat persatuan bangsa**. Dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, moderasi beragama berfungsi sebagai jembatan yang mengikat keberagaman. Ia menegaskan bahwa menjadi taat beragama tidak bertentangan dengan komitmen kebangsaan. Justru, kecintaan pada tanah air adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

    Ketiga, membangun peradaban yang beradab.Masyarakat yang moderat adalah masyarakat yang stabil, damai, dan produktif. Dari sinilah lahir peradaban yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan solidaritas sosial fondasi penting bagi kemajuan bangsa di tengah persaingan global.

     Tantangan: Politik Identitas dan Era Digital

    Di tengah idealisme tersebut, moderasi beragama menghadapi tantangan serius. Salah satunya adalah politik identitas dan kepentingan. Ketika agama digunakan sebagai alat kekuasaan atau pengaruh, nilai-nilai spiritual kerap tereduksi menjadi sekadar simbol mobilisasi massa. Agama ditarik ke dalam pusaran kepentingan politik dan ekonomi, sehingga memicu polarisasi dan potensi konflik horizontal di masyarakat.

    Tantangan lainnya datang dari era digital dan media sosial . Arus informasi yang cepat, tanpa filter, membuka ruang luas bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme digital. Ruang publik digital sering kali menjadi arena pertarungan identitas, bukan ruang dialog yang mencerahkan. Jika tidak diimbangi dengan literasi digital dan etika beragama yang kuat, media sosial justru memperdalam intoleransi.

     Tanggung Jawab Bersama Menuju Moderasi yang Hidup

    Moderasi beragama tidak mungkin berhasil jika hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah berperan sebagai fasilitator kebijakan yang adil dan inklusif. Tokoh agama memegang peran strategis dalam menanamkan pemahaman keagamaan yang sejuk dan mencerahkan. Lembaga pendidikan bertugas membangun karakter moderat sejak dini. Sementara masyarakat sipil menjadi ruang praksis tempat nilai-nilai moderasi diuji dan dihidupkan.

    Agar moderasi beragama tidak berhenti sebagai program seremonial, diperlukan keberanian untuk menjadikannya gerakan kultural. Ia harus hadir dalam bahasa yang membumi, menyentuh realitas sosial, dan menjawab kegelisahan masyarakat. Dengan demikian, moderasi beragama benar-benar menjadi milik bersama bukan milik satu institusi atau kepentingan tertentu.


    Moderasi beragama adalah ikhtiar panjang merawat Indonesia. Ia bukan jalan pintas, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut keteladanan, konsistensi, dan komitmen kolektif. Di tengah tantangan politik identitas dan disrupsi digital, moderasi beragama adalah penyangga moral agar bangsa ini tetap berdiri kokoh dalam harmoni dan persatuan.

    Jika moderasi beragama berhasil diinternalisasi sebagai etika sosial, maka Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai bangsa yang majemuk, tetapi juga sebagai bangsa yang dewasa dalam mengelola perbedaan sebuah peradaban yang damai, beradab, dan berkeadilan.


    Red
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini