• Jelajahi

    Copyright © Global Faktual
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Membaca Siklus Manusia dalam Lagu "Shiki no Uta)

    Kamis, 10 September 2026, September 10, 2026 WIB Last Updated 2026-09-10T08:38:19Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    M.Guntur Alting
    Dewan Pembina SWI Jaya


    KEMARIN, Globalfaktual-com - di sudut gedung kedokteran yang sunyi. Saya membiarkan diri hanyut oleh alunan syahdu lagu Jepang, 'Shiki no Uta' yang menjadi 'back sound' tulisan ini.

    Lagu empat musim ini melalui interpretasi vokal yang jernih dan penuh rasa dari sang penyanyi 'Sakairi Shimai.'

    Lagu itu pendek, hanya tiga menit lebih sedikit. 

    Tapi dalam durasi yang ringkas itu, ia membentangkan sebuah lanskap batin yang intim, mengajak kita menengok kembali perjalanan hidup yang sering kali luput dari perenungan, bagaimana manusia bertumbuh, diuji, merelakan, dan akhirnya "pulang."

    ​Kita kerap memandang pergantian empat musim—semi, panas, gugur, dan dingin—hanya sebagai siklus meteorologis di belahan bumi yang jauh. 

    Namun, di tangan penyair dan pembuat lagu ini, alam diterjemahkan menjadi cermin paling jujur bagi riwayat jiwa manusia.

    ​​Di negeri-negeri utara, musim bukan sekadar urusan suhu udara atau pakaian tebal yang dikeluarkan dari lemari. Ia adalah metafora paling purba tentang riwayat manusia. 

    Dan lagu ini—dengan kesahajaan nadanya—membaca empat musim itu sebagai babak-babak eksistensial yang mau tidak mau harus kita lewati.

    -000-

    ​Bermula dari Musim Semi.

    ​Musim semi, dalam bait-bait lagu itu, hadir bukan dengan gegap gempita, melainkan sebagai sekuntum bunga violet yang merekah malu-malu di balik rumpun rumput. 

    Ia rapuh, lembut, dan sekejap mata bisa layu jika diinjak. Di sinilah metafora itu menemukan bentuknya: musim semi adalah masa muda kita. 

    Masa ketika darah masih berdesir kencang, ketika kawan-kawan datang dengan tawa yang tulus tanpa reserve, dan ikatan sosial dibentuk di atas kepolosan yang belum dijamah oleh kalkulasi untung-rugi dunia. 

    Kita semua pernah berada di sana—di titik ketika hidup terasa sebagai hamparan padang rumput yang wangi, di mana masa depan tampak begitu lapang dan kematian hanyalah cerita fiksi milik orang tua.

    ​Tetapi sejarah manusia tidak pernah diizinkan berhenti di taman bunga yang abadi. Roda berputar, dan kita diseret masuk ke dalam teriknya musim panas.

    ​Di sinilah nada lagu berubah menjadi ketukan yang lebih keras, laksana ombak yang menghantam karang tanpa kenal lelah. 

    -000-

    Musim Panas yang Menguji. 

    Ia adalah metafora bagi sosok seorang ayah—atau barangkali setiap jiwa yang dipaksa berdiri di garis depan untuk menahan hantaman nasib. 

    Di bawah matahari yang membakar, hidup menuntut ketangguhan fisik dan mental. 

    Tidak ada lagi tempat untuk bermanja-manja seperti di musim semi.

    Yang ada adalah kerja keras, peluh yang menetes di kening, dan keyakinan bahwa di balik karang yang keras, ada keluarga yang harus dilindungi agar tidak ikut hanyut oleh arus zaman. 

    Musim panas mengajarkan kita bahwa kedewasaan menuntut harga yang mahal: ketahanan diri di tengah badai.

    -000-

    Musim Gugur Yang Kontemplatif

    ​Lalu, perlahan-lahan, terik itu mereda. Kita memasuki musim gugur.
    ​Suasana mendadak kontemplatif. Daun-daun maple berguguran dalam keheningan, menciptakan permadani kecoklatan di atas tanah. 

    Di titik ini, lagu mengantar kita pada kedalaman batin seorang penyair yang duduk merenung di beranda, memandang hari-hari yang kian pendek. 

    Musim gugur adalah paruh baya manusia—masa ketika kita mulai menimbang-nimbang ulang segala ambisi yang pernah kita kejar dengan membabi-buta. 

    Kita mulai belajar memilah mana yang penting dan mana yang sia-sia. Di musim ini, manusia dipaksa berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita genggam. 

    Ada masa untuk memetik, dan ada masa yang jauh lebih penting: merelakan sesuatu pergi meninggalkan dahan. Musim gugur adalah sekolah tentang keikhlasan.

    -000-

    Musim Dingin yang Menutup

    ​Dan akhirnya, siklus itu ditutup oleh musim dingin. ​Bagi mereka yang melihatnya secara harfiah, musim dingin adalah kematian putih—ketika tanah membeku dan salju menimbun segalanya dalam kesunyian yang mencekam. 

    Namun, di dalam "Shiki no Uta", musim dingin justru diselamatkan oleh kehangatan yang paling purba: rahim kasih sayang seorang ibu. 

    Di balik selimut salju yang dingin itu, tersimpan dekap yang melelehkan segalanya. Ia adalah pengampunan, tempat perlindungan terakhir ketika dunia di luar terlalu kejam dan melelahkan. 

    Musim dingin mengingatkan kita bahwa setelah sekian jauh kita berkelana, bertempur di musim panas, dan merenung di musim gugur, manusia pada akhirnya selalu mendambakan pulang. 

    Pulang ke pangkuan yang merawat, ke tempat di mana hidup pertama kali dihidupkan kembali.

    -000-

    Epilog

    ​Mendengarkan tembang ini di tengah riuhnya dunia modern yang serba instan, terasa seperti membaca sebuah surat cinta yang sudah lama terselip di antara halaman buku tua. 

    Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu direduksi menjadi angka-angka, efisiensi, dan kecepatan. Kita terbiasa merayakan pencapaian-pencapaian besar, seolah-olah hidup adalah perlombaan tanpa garis finis. 

    Kita lupa bahwa di dalam diri setiap manusia, ada musim semi yang pernah rapuh, ada musim panas yang menempa kita dalam peluh, ada musim gugur yang menuntut permenungan, dan ada musim dingin yang menunggu kita dengan kehangatan kepulangan.
    ....
    ​Pada akhirnya, lagu ini tidak sedang bercerita tentang alam di belahan bumi yang jauh. Ia sedang bercerita tentang kita. Tentang bagaimana kita merajut riwayat, menelan pahitnya kekecewaan, merayakan perjumpaan, dan memeluk perpisahan. 

    Dan di atas segalanya, ia mengingatkan kita bahwa betapa pun cepatnya waktu mendikte langkah kaki kita, kita toh tidak pernah benar-benar bisa lepas dari hukum agung alam: bahwa hidup, dengan segala suka dan dukanya, adalah sebuah perjalanan pulang ke dalam diri sendiri.
    (***)

    Pejaten Barat, 9 September 2026
    Pukul: 07.00


    Ida 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini